Wakil Bupati Banyuasin H. Slamet Sumosentono, SH., meresmikan Seminar Bidan Mengawal Kesehatan dan Memperingati Hari Ulang Tahun Ikatan Bidan Indonesia ke – 68 Cabang Banyuasin yang diselenggarakan di Gedung Graha Sedulang Setudung, Rabu (11/10/2019).

Turut hadir Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuasin dr. H. Masagus M. Hakim, M.Kes., Ketua PD IBI Provinsi Sumatera Selatan Narasumber dr. Febriansyah Darus, SP.OG., Wakil Ketua TP PKK Banyuasin dan Dharma Wanita Persatuan Banyuasin
Para Kepala OPD, Ketua Organisasi Profesi Kesehatan, Kepala UPT Puskesmas se-Kabupaten Banyuasin, dan para peserta seminar.

Wakil Bupati Banyuasin H. Slamet Sumosentono, SH., dalam sambutannya menegaskan bahwa mengingat pentingnya peran para bidan ditengah – tengah masyarakat, maka bidan haruslah memiliki skill yang baik dan juga profesional.

“Proses jaman itu bergerak kedepan, tadi saya singgung Bidan ini dukun bayi, nah proses ini sudah tidak ada lagi, Bidan ini di tuntut mempunyai skill yang baik, setelah mempunyai skill baru ke tahap profesional,”ujarnya.

Menurut Pakde Slamet, isu di dunia kesehatan yang sampai saat ini masih hangat dibicarakan yaitu kasus kematian ibu melahirkan. Di Indonesia sendiri pada tahun 2016 masih tinggi, ada 305 per 100 kelahiran yang hidup. Artinya dalam setiap 1,5 jam ada 1 ibu melahirkan yang meninggal.

Di Kabupaten Banyuasin sendiri, lanjut Pakde, Kematian Ibu melahirkan masih menjadi pekerjaan rumah semua pihak. Pada tahun 2017 terjadi 18 kematian ibu melahirkan, menurun ditahun 2018 menjadi 15 kasus. Hingga saat ini masih ada 15 kasus kematian dari 16.000 lebih kelahiran hidup yang ada.

“Ini menjadi tugas berat dan memerlukan peran banyak pihak, karena dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2014 – 2019, Pemerintah menargetkan penurunan Angka kematian Ibu (AKI) dari 305/100 ribu angka kelahiran hidup menjadi 276/100 ribu angka kelahiran hidup,”ujarnya.

Oleh karena itu, kata Pakde Slamet, Kalau bidan menggeluti bidang ini setiap hari, kemudian menciptakan profesionalitas, maka ini wadah dari profesi yang akan berkembang sehingga kasus kematian ibu dan anak yang baru dilahirkan bisa ditekan. Karena perannya Bidan ini sangat luar biasa dalam mencegah kasus kematian ibu dan anak saat melahirkan, mulai dari memperhatikan gizi sejak dalam kandungan hingga masa menyusui bagi bayi.

“Sejak dalam kandungan gizi anak harus diperhatikan supaya lahir tidak cacat dan kecil ataupun mempunyai kelainan hingga masa menyusui juga harus dipantau oleh para bidan. Dari dini di dalam Kandungan sudah dihitung dan gizi harus diperbaiki sehingga nantinya bisa menghasilkan SDM yang berkualitas. Ini Merupakan wujud Banyuasin Cerdas.

Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Cabang Banyuasin, Hj. Rodiah Nawawi, AM. Keb., mengatakan, bahwa infrastruktur masih jadi kendala bagi para bidan yang bertugas di Kabupaten Banyuasin. Kendala utama bidan itu masih masalah transportasi, karena Banyuasin itu luas. Mengingat secara geografis wilayah Banyuasin yang memiliki wilayah perairan dan daratan, cukup menyulitkan para bidan yang bertugas untuk menjangkau daerah-daerah terpencil, terutama untuk daerah-daerah yang infrastrukturnya belum baik.
“Wilayah Banyuasinkan terdiri dari wilayah darat dan perairan, hal tersebut membuat membuat para bidan sulit menjangkau desa,” ujarnya.

Meskipun begitu, Hj. Rodiah Nawawi, AM. Keb., berharap kedepannya para bidan tetap mengedepankan sikap profesional dalam bekerja dan membantu masyarakat. Sejauh ini bidan yang ada di desa sudah melebihi standar yang ada, tinggal kedepan akan di anggarkan satu desa satu doker.

“Kepada para bidan tetap solid sesama anggota, bekerja secara profesional sesuai standar dan kompetisinya, demi mendukung pemerintah Kabupaten Banyuasin meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan menekan angka stunting,” tukasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *